![]() |
Foto ilustrasi |
Dompu, Topikbidom.com - Kabupaten Dompu, ternyata merupakan daerah yang terbilang banyak menghasilkan limbah Medis. Limbah medis ini bersumber dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dompu, Rumah Sakit Pratama Manggelewa dan 10 Puskesmas dan lainnya di wilayah Kabupaten Dompu.
Selama ini, limbah medis diangkut dan dikelola oleh pihak ketiga (Perusahaan luar Dompu). Artinya, RSUD, RS Pratama dan Puskesmas di wilayah Kabupaten Dompu, harus mengeluarkan bajet anggaran sebesar Rp.50 ribu sampai Rp.60 ribu perkilo untuk membayar jasa perusahaan (pihak ketiga) yang mengambil dan mengangkut limbah medis untuk dibawa ke luar wilayah Kabupaten Dompu.
Pemerhati Lingkungan, Ramadhan, warga Kabupaten Dompu, pada media ini mengatakan sudah saatnya Kabupaten Dompu, memiliki sarana dan prasarana pengolah limbah medis dan non medis.
Hal ini, mengingat Kabupaten Dompu (RSUD Dompu, RS Pratama Manggelewa dan Puskesmas) penghasil limbah medis yang diperkirakan sangat banyak. Bayangkan, dalam satu tahun tempat pelayanan kesehatan itu mampu menghasilkan ratusan ton limbah medis.
Namun, sayangnya manfaat limbah ini didapat oleh pihak ketiga alias perusahaan yang dipercaya untuk mengambil, mengangkut dan mengolah limbah medis. Belum lagi tempat pelayanan harus mengeluarkan anggaran untuk membayar jasa itu sebesar Rp.50 ribu sampai Rp.60 ribu per-kilo.
Apalagi, pengambilan dan pengangkutan limbah medis dilakukan 5 kali dalam setahun. Hitung saja berapa jumlah uang yang dihabiskan untuk membayar jasa itu. Bahkan keuntungan dari limbah medis dinikmati oleh pihak diluar Dompu.
"Artinya jalan keluar yang tepat Dompu harus punya sarana dan prasarana pengolah limbah medis," ujar Ramadhan, Rabu (19/3/2025).
BACA JUGA: Bulan Juni, Jumlah Limbah Medis di RSUD Dompu Capai 7 Ton
BACA JUGA: LP2SDA NTB Pertanyakan Anggaran Penanganan Limbah Medis di Dompu
Menurut Ramadhan, seandainya Dompu memiliki sarana dan prasarana itu, berapa banyak uang yang akan dihasilkan, khususnya meningkatkan nilai Pendapatan Asli Daerah (PAD). "Ini yang mesti harus dipikirkan oleh pemerintah," jelasnya.
Lihat saja lanjut Ramadhan, daerah daerah di luar sama mengelola secara langsung limbah medis dan non medis. Aktivitas ini mampu menghasilkan sumber sumber keuangan yang sangat menjanjikan. "Dompu harus banyak belajar dari daerah lain yang mampu mengolah secara langsung limbah medis dan non medis," terangnya.
BACA JUGA: Penanganan Limbah Medis dan Medis RSU Dompu Tidak Diragukan
BACA JUGA: Mengenai Berbagai Item Yang Dipertanyakan, Ini Penjelasan Kepala PKM Dompu Timur
Bayangkan saja, dalam satu pengambilan dan pengakuan limbah medis tempat pelayanan kesehatan harus mengeluarkan bajet anggaran sekitar 10 juta per-satu kali. Artinya, kalau 5 kali dalam setahun, itu menelan anggaran sebesar Rp.50 Juta. Kalau dikalikan dengan jumlah tempat pelayanan kesehatan yang ada di Kabupaten Dompu, itu tentu nilai anggaran yang dikeluarkan sangat banyak.
"Sayang uang sebesar ini harus keluar dari Dompu. Apa salahnya kalau Dompu yang mengelola dan menerima manfaatnya secara langsung," paparnya.
Berangkat dari hal ini, semoga kedepan akan ada sarana dan prasarana yang berfungsi untuk mengolah limbah medis dan non medis secara langsung. "Semoga saja apa yang diharapkan ini bisa terealisasi," tandasnya. RUL/*